Sosoknya tinggi kurus. Usia yang semakin merambat tua, membuat rambut di
kepalanya semakin menipis. Namun demikian, semangat bermusiknya tak
pernah surut. Dia masih lincah di atas panggung, tak kalah dengan
pemusik remaja masa kini. Penampilannya khas dengan ikat kepala dan
sepatu kets. Dialah Donny Fatah, pemain bas grup band legendaris God
Bless. Bersama Achmad Albar dan almarhum Fuad Hassan, dia merupakan
salah seorang pendiri grup band tersebut.
Kini, dia usianya yang
memasuki 62 tahun, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, pada 24
September ini, terpaksa istirahat sejenak dari dunia panggung. Dia
didiagnosa menderita penyakit jantung. "Awalnya dia mengeluh pusing,
bahkan hampir pingsan," kata Diah Pitaloka, istri Donny, di sebuah kafe
di kawasan Ampera, Jakarta Selatan, Jumat (10/2).
Donny sempat
dilarikan ke rumah sakit dan mendapat perawatan di sana. Sekarang
kondisinya berangsur pulih dan sudah diperbolehkan pulang.
Rekan-rekannya sesama musisi datang menjenguk. Bahkan, mereka mengadakan
malam solidaritas untuk Donny di kafe di kawasan Ampera tersebut.
Melalui
acara yang bertajuk "Dari Musisi untuk Musisi" , mereka menggalang dana
untuk pengobatan Donny melalui pertunjukan musik. Mereka yang tampil
berpartisipasi antara lain Iwan Fals, Yockie Suryoprayogo, Teddy
Sujaya, Yaya Muktio, Ikang Fawzi, Eet Sjahrani (Edane), D'Masiv, Geisha,
Elpamas, Powerslaves, Seven Years Latter bersama Doddy Katamsi, Bangkit
Sanjaya, Gigi, Piyu 'Padi', Bagus (Netral), Iwang Noorsaid bersaudara,
dan lain-lain.
Sebagian besar di antara musisi tersebut
membawakan nomor lawas milik God Bless sebagai bentuk penghormatan.
D'Masiv, misalnya, membawakan Huma di Atas Bukit dengan versi akustik.
Seperti halnya D’Masiv, Raksasa band yang lahir jauh setelah era God
Bless, juga membawakan lagu milik band legendaris tersebut yang
kebetulan berjudul Raksasa. Gitaris band ini kebetulan juga putra Donny
yang bernama Iman Fatah.
Tak hanya musisi junior, Elpamas band
asal Pandaan, Malang, Jawa Timur juga ikut sumbang suara. Baruna sang
vokalis band ini dengan apik melantunkan Balada Sejuta Wajah sembari
diiringi petikan gitar akustik Totok Tewel.
Sebelumnya, Iwan Fals
juga didaulat ke atas panggung. Lagu berjudul 'Lekas Sembuh' meluncur
dari si pelantun Oemar Bakrie ini. Lagu itu memang sengaja dinyanyikan
Iwan sebagai harapan supaya Donny lekas sembuh dari penyakitnya. Iwan
memang punya kedekatan emosional dengan Donny. "Saya kalau dekat dia
merasa tenang. Karena dia orangnya tenang," ucap Iwan.
Donny
memang berpembawaan tenang. Sosoknya bahkan sangat bersahaja. Dibanding
para personel God Bless lainnya, penampilannya di luar panggung
tergolong pendiam. Namun begitu, dia ramah kepada siapa saja dan tak
pernah menempatkan dirinya sebagai musisi tenar. "Wah kita semua manusia
sama saja, mas," ujar Donny dalam perbincangan dengan Koran Jakarta, di
studio milik Ian Antono, di Cibubur, Jakarta Timur, beberapa waktu
lalu.
Menurut Yaya Muktio, rekan Donny yang juga drummer God
Bless saat ini, koleganya tersebut rajin beribadah. Bahkan, kata Yaya,
sewaktu dia berulang tahun Donny pernah memberinya hadiah terjemahan
Alquran. "Biar saya bisa bacanya, saya kan nggak bisa baca huruf arab,"
terang Yaya.
Begitu lah sosok Donny. Dia amat dicintai
rekan-rekannya. Terbukti dalam malam penggalangan dana itu, sejumlah
musisi ikut hadir. Mereka berasal dari lintas generasi. Malam itu, dana
untuk pengobatan Donny terkumpul sekitar 125 juta rupiah. "Kami
sekeluarga ikut berterima kasih atas kebaikan teman-teman semua," ujar
Diah yang didampingi Iman, putra Donny. Donny sendiri dalam pesan
singkatya kepada Koran Jakarta, hanya berucap. "Terima kasih doanya.
Salam saya sekeluarga." adiyanto
Sabtu, 06 Oktober 2012
God Bless, Macan Tua yang Masih Garang
Menakjubkan. Kalaulah
saja Kamis (10/8) pukul 23.00 Anda datang ke panggung Gudang Garam Music
Festival di Mega Expo Jateng 2006, kompleks PRPP, Tawangmas, Semarang Barat,
barangkali kata sama bakal terlontarkan.
Bisa jadi mata, telinga, dan tubuh Anda akan berpadu padan dengan
lantunan tembang yang dibabar grup band kawakan, God Bless.
Ya, semalam grup band yang dipunggawani Ahmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bas), Abadi Soesman (kibor), dan Yaya Muktio (drum) itu menujukkan kepiawaiannya. Kendati hampir semua personelnya berusia lebih dari setengah abad, kecuali Yaya Mukti (43) yang menggantikan absennya Gilang Ramadhan, mereka tak kehilangan semangat. Penampilan mereka benar-benar memikat.
Menyimak penampilan God Bless, bak membuka lembar demi lembar buku yang tebal. Di mana di dalamnya termaktub kata-kata yang terangkai menjadi kalimat yang dahsyat, kendati telah usang. Lihat saja saat tembang-tembang mereka seperti "Musisi", "Bla Bla Bla", Syair Kehidupan", "Huma di Atas Bukit", "Semut Hitam", atau "Kehidupan", dilantunkan.
Ratusan penonton yang sebagian besar adalah penggemar fanatiknya, tak henti-henti berteriak histeris. Seolah saling melepas kerinduan yang teramat mendalam. Tidak saja berjingkrak, ratusan penonton turut pula menyaut tiap kali Iyek, panggilan akrab Ahmad Albar, melantunkan bait demi bait lirik tembang legendaris mereka.
Rupanya hal itu disadari betul oleh Iyek. Para personel grup band yang sempat merajai panggung-panggung pertunjukkan era tahun 1970-an itu, tahu benar penggemarnya menanti aksi mereka di atas panggung. Maklum saja, sudah beberapa tahun God Bless tak singgah di Kota Semarang.
Jadilah perhelatan semalam menjadi semacam konser klangenan antara God Bless dan penggemarnya. Terlebih, penampilan Yaya Muktio sebagai personel pengganti Gilang, mampu mengimbangi permainan Ian Antono, Donny Fatah, dan Abadi Soesman. God Bless tetaplah sebagai grup band yang beraliran rock klasik.
Melihat penampilan mereka semalam, justru Yaya mulai menyatu dengan permainan yang dimiliki God Bless. Di tangan Iyek, Donny Fatah, dan Ian Antono, God Bless tetap berdiri kokoh bagai 'karang', kendati pernah mengalami kevakuman beberapa tahun lamanya.
Grup band kawakan itu tetap menjadi legenda bagi perjalanan musik rock di tanah air. Mereka masih tetap tegar bagai macan tua yang garang di atas panggung. Iyek masih lantang tatkala melantunkan tembang "Sejuta Wajah", "Menjilat Matahari", dan "Rumah Kita", meski sesekali tersengal-sengal dengus nafasnya.
Petikan maupun sayatan gitar Ian Antono masihlah terlihat dahsyat. Permainan gitar Ian masih mempunyai ruh. Sedangkan Donny Fatah, betotan basnya nyaris tak mengalami perubahan berarti dibanding dua puluh tahun silam. Demikian halnya Abadi Soesman, suara dari kibornya mampu masuk ke sela-sela jeda permainan musik yang dimainkan.
Sementara Yaya Muktio, sebagai personel yang lebih muda, gebukan drumnya mampu menjaga ritmis tembang yang terlantunkan. Ya, God Bless terlampau sulit dicari tandingannya, oleh musisi muda sekalipun. Meski "macan tua", mereka masih garang
Ya, semalam grup band yang dipunggawani Ahmad Albar (vokal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bas), Abadi Soesman (kibor), dan Yaya Muktio (drum) itu menujukkan kepiawaiannya. Kendati hampir semua personelnya berusia lebih dari setengah abad, kecuali Yaya Mukti (43) yang menggantikan absennya Gilang Ramadhan, mereka tak kehilangan semangat. Penampilan mereka benar-benar memikat.
Menyimak penampilan God Bless, bak membuka lembar demi lembar buku yang tebal. Di mana di dalamnya termaktub kata-kata yang terangkai menjadi kalimat yang dahsyat, kendati telah usang. Lihat saja saat tembang-tembang mereka seperti "Musisi", "Bla Bla Bla", Syair Kehidupan", "Huma di Atas Bukit", "Semut Hitam", atau "Kehidupan", dilantunkan.
Ratusan penonton yang sebagian besar adalah penggemar fanatiknya, tak henti-henti berteriak histeris. Seolah saling melepas kerinduan yang teramat mendalam. Tidak saja berjingkrak, ratusan penonton turut pula menyaut tiap kali Iyek, panggilan akrab Ahmad Albar, melantunkan bait demi bait lirik tembang legendaris mereka.
Rupanya hal itu disadari betul oleh Iyek. Para personel grup band yang sempat merajai panggung-panggung pertunjukkan era tahun 1970-an itu, tahu benar penggemarnya menanti aksi mereka di atas panggung. Maklum saja, sudah beberapa tahun God Bless tak singgah di Kota Semarang.
Jadilah perhelatan semalam menjadi semacam konser klangenan antara God Bless dan penggemarnya. Terlebih, penampilan Yaya Muktio sebagai personel pengganti Gilang, mampu mengimbangi permainan Ian Antono, Donny Fatah, dan Abadi Soesman. God Bless tetaplah sebagai grup band yang beraliran rock klasik.
Melihat penampilan mereka semalam, justru Yaya mulai menyatu dengan permainan yang dimiliki God Bless. Di tangan Iyek, Donny Fatah, dan Ian Antono, God Bless tetap berdiri kokoh bagai 'karang', kendati pernah mengalami kevakuman beberapa tahun lamanya.
Grup band kawakan itu tetap menjadi legenda bagi perjalanan musik rock di tanah air. Mereka masih tetap tegar bagai macan tua yang garang di atas panggung. Iyek masih lantang tatkala melantunkan tembang "Sejuta Wajah", "Menjilat Matahari", dan "Rumah Kita", meski sesekali tersengal-sengal dengus nafasnya.
Petikan maupun sayatan gitar Ian Antono masihlah terlihat dahsyat. Permainan gitar Ian masih mempunyai ruh. Sedangkan Donny Fatah, betotan basnya nyaris tak mengalami perubahan berarti dibanding dua puluh tahun silam. Demikian halnya Abadi Soesman, suara dari kibornya mampu masuk ke sela-sela jeda permainan musik yang dimainkan.
Sementara Yaya Muktio, sebagai personel yang lebih muda, gebukan drumnya mampu menjaga ritmis tembang yang terlantunkan. Ya, God Bless terlampau sulit dicari tandingannya, oleh musisi muda sekalipun. Meski "macan tua", mereka masih garang
GODBLESS kita tak lagi muda
Achmad Albar menatap panggung. Wajahnya tampak tegang, matanya lurus
menatap rekan-rekannya yang sudah lebih dulu beroleh riuh tepukan di
bawah terang lampu sorot. Tangan kirinya bertumpu di pinggang, sementara
tangan satunya menyandar ke tembok.
Sebelumnya, ia tampak melakukan pemanasan, bersenam, melemaskan kepala, pinggang, dan kakinya. Sebentar melompat-lompat sambil menunggu rekan-rekannya selesai menala nada pada alat musiknya. Grogi? “Ya, selalu ada rasa demam panggung ketika kembali naik panggung,” kata Iyek, panggilan akrabnya.
Saat asap es kering mengepul tebal, Iyek pun beranjak naik ke panggung. Tepuk sorak kembali membahana. Dia mengangkat kedua tangannya, menyapa ratusan penonton di kantor majalah Rolling Stone Indonesia, Kamis malam lalu.
Inilah penampilan khusus God Bless. Para audiens memadat di depan panggung, terdiri atas musisi berbagai angkatan, selebritas, wartawan, bahkan pekerja tayangan infotainment. Sebelum God Bless tampil, panggung silih berganti diisi penampilan musisi, seperti Fariz R.M., Indra Lesmana, dan Glenn Fredly.
Hangat. Atraktif. Itulah yang tergambar dalam penampilan mereka. Iyek, misalnya, seperti biasa, tetap melompat-lompat di panggung. Mereka membawakan sejumlah lagu. Tentu saja lagu-lagu itu mengingatkan penonton pada perjalanan God Bless.
Lagu Huma di Atas Bukit, misalnya. Ini adalah lagu lama, diciptakan pada 1970-an. Lagu ini masuk album mereka yang bertajuk God Bless pada 1975. Boleh jadi, lagu ini, termasuk lagu-lagu lainnya, mengantarkan kenangan tersendiri bagi penggemarnya.
Mereka tidak ada duanya. Tidak tergantikan. Mereka tetap tampil prima. Padahal mereka sudah tidak muda. Achmad Albar sudah 62 tahun. Ian Antono, sang gitaris, sudah 58 tahun. Begitu pula Donny Fattah (bas), Yaya (drum), dan Abadi Soesman (keyboard).
Dengan semangat yang tetap menyala itulah, tahun depan, mereka akan merilis album baru. Ini rencana lama yang belum terwujud. “God Bless mau bikin album lagi setelah sekian lama absen, kangen juga,” ujar Ian beberapa bulan lalu kepada Tempo.
Kini rencana itu makin menguat. God Bless tengah menggodok materi album itu. “Hidup kami memang musik. Kalau bukan musik, apa lagi? Kita nggak bisa kerja di kantor,” kata Ian di sela-sela konser Kamis malam itu.
Rencananya, ada 12 lagu mengisi album tersebut. Semua baru. Sebelumnya, sempat ada pemikiran memasukkan dua lagu lama dalam versi artistik, tapi tidak jadi. Karya terbaru itu juga untuk menghangatkan semangat rock sekaligus membawa nuansa baru. “Ini kesempatan terakhir kami membuktikan,” Ian menambahkan.
Kata dia, album baru condong ke Cermin, cenderung progresif, dengan satu-dua lagu berdurasi panjang. “Saya yakin masih banyak peminat progresif. Yaya (Yaya Moektio, drum) sudah adaptasi selama beberapa tahun ini. Beat dia lebih kaya,” kata Ian.
Malam itu Yaya menunjukkan sedikit beat progresifnya. Misalnya saat menemani melodi Ian pada lagu Rumah Kita dan tendangan pedal-ganda di sepanjang lagu Kehidupan. Selain itu, kata Ian, mereka juga memasukkan unsur etnik di keyboard.
Sejumlah harapan pun disandarkan. “Di album terbaru, saya berharap mereka tetap jadi God Bless. Ini saya nungguin,” kata Fariz. “Semoga ada warna baru kembali di album terbaru,” tutur Ebiet G. Ade. Sedangkan Ari Lasso berkata: “Mudah-mudahan bisa mewakili dan membayar kerinduan saya selama ini kepada God Bless.”
Malam itu God Bless tetap menunjukkan diri sebagai God Bless yang dulu. Iyek, misalnya, meski tak bisa menutupi kelelahannya (mereka tiba di Rolling Stone sejak hari terang dan baru manggung sekitar pukul 23.00), tetap berusaha tampil prima. Beberapa kali ia terpeleset di nada-nada tinggi dengan kekuatan suara besar.
Setelah beberapa lagu, Iyek pamit kepada penonton. Audiens tak rela rupanya. Para personel sudah hendak beranjak. Mereka tampak berunding di panggung. Ian Antono menjawab dengan petikan gitar. Huma di Atas Bukit pun dilantunkan. Lalu Panggung Sandiwara.
Tak lengkaplah God Bless tanpa Semut Hitam, yang diteriakkan sejumlah penonton. God Bless mengabulkannya sebagai lagu terakhir. Malam itu semua kembali ber-rock ‘n’ roll. Penonton ikut bergoyang, bahkan ada yang berjingkrak-jingkrak.
…
Semut hitam
Semut hitam…
Sebelumnya, ia tampak melakukan pemanasan, bersenam, melemaskan kepala, pinggang, dan kakinya. Sebentar melompat-lompat sambil menunggu rekan-rekannya selesai menala nada pada alat musiknya. Grogi? “Ya, selalu ada rasa demam panggung ketika kembali naik panggung,” kata Iyek, panggilan akrabnya.
Saat asap es kering mengepul tebal, Iyek pun beranjak naik ke panggung. Tepuk sorak kembali membahana. Dia mengangkat kedua tangannya, menyapa ratusan penonton di kantor majalah Rolling Stone Indonesia, Kamis malam lalu.
Inilah penampilan khusus God Bless. Para audiens memadat di depan panggung, terdiri atas musisi berbagai angkatan, selebritas, wartawan, bahkan pekerja tayangan infotainment. Sebelum God Bless tampil, panggung silih berganti diisi penampilan musisi, seperti Fariz R.M., Indra Lesmana, dan Glenn Fredly.
Hangat. Atraktif. Itulah yang tergambar dalam penampilan mereka. Iyek, misalnya, seperti biasa, tetap melompat-lompat di panggung. Mereka membawakan sejumlah lagu. Tentu saja lagu-lagu itu mengingatkan penonton pada perjalanan God Bless.
Lagu Huma di Atas Bukit, misalnya. Ini adalah lagu lama, diciptakan pada 1970-an. Lagu ini masuk album mereka yang bertajuk God Bless pada 1975. Boleh jadi, lagu ini, termasuk lagu-lagu lainnya, mengantarkan kenangan tersendiri bagi penggemarnya.
Mereka tidak ada duanya. Tidak tergantikan. Mereka tetap tampil prima. Padahal mereka sudah tidak muda. Achmad Albar sudah 62 tahun. Ian Antono, sang gitaris, sudah 58 tahun. Begitu pula Donny Fattah (bas), Yaya (drum), dan Abadi Soesman (keyboard).
Dengan semangat yang tetap menyala itulah, tahun depan, mereka akan merilis album baru. Ini rencana lama yang belum terwujud. “God Bless mau bikin album lagi setelah sekian lama absen, kangen juga,” ujar Ian beberapa bulan lalu kepada Tempo.
Kini rencana itu makin menguat. God Bless tengah menggodok materi album itu. “Hidup kami memang musik. Kalau bukan musik, apa lagi? Kita nggak bisa kerja di kantor,” kata Ian di sela-sela konser Kamis malam itu.
Rencananya, ada 12 lagu mengisi album tersebut. Semua baru. Sebelumnya, sempat ada pemikiran memasukkan dua lagu lama dalam versi artistik, tapi tidak jadi. Karya terbaru itu juga untuk menghangatkan semangat rock sekaligus membawa nuansa baru. “Ini kesempatan terakhir kami membuktikan,” Ian menambahkan.
Kata dia, album baru condong ke Cermin, cenderung progresif, dengan satu-dua lagu berdurasi panjang. “Saya yakin masih banyak peminat progresif. Yaya (Yaya Moektio, drum) sudah adaptasi selama beberapa tahun ini. Beat dia lebih kaya,” kata Ian.
Malam itu Yaya menunjukkan sedikit beat progresifnya. Misalnya saat menemani melodi Ian pada lagu Rumah Kita dan tendangan pedal-ganda di sepanjang lagu Kehidupan. Selain itu, kata Ian, mereka juga memasukkan unsur etnik di keyboard.
Sejumlah harapan pun disandarkan. “Di album terbaru, saya berharap mereka tetap jadi God Bless. Ini saya nungguin,” kata Fariz. “Semoga ada warna baru kembali di album terbaru,” tutur Ebiet G. Ade. Sedangkan Ari Lasso berkata: “Mudah-mudahan bisa mewakili dan membayar kerinduan saya selama ini kepada God Bless.”
Malam itu God Bless tetap menunjukkan diri sebagai God Bless yang dulu. Iyek, misalnya, meski tak bisa menutupi kelelahannya (mereka tiba di Rolling Stone sejak hari terang dan baru manggung sekitar pukul 23.00), tetap berusaha tampil prima. Beberapa kali ia terpeleset di nada-nada tinggi dengan kekuatan suara besar.
Setelah beberapa lagu, Iyek pamit kepada penonton. Audiens tak rela rupanya. Para personel sudah hendak beranjak. Mereka tampak berunding di panggung. Ian Antono menjawab dengan petikan gitar. Huma di Atas Bukit pun dilantunkan. Lalu Panggung Sandiwara.
Tak lengkaplah God Bless tanpa Semut Hitam, yang diteriakkan sejumlah penonton. God Bless mengabulkannya sebagai lagu terakhir. Malam itu semua kembali ber-rock ‘n’ roll. Penonton ikut bergoyang, bahkan ada yang berjingkrak-jingkrak.
…
Semut hitam
Semut hitam…
Jumat, 05 Oktober 2012
album '' SEMUT HITAM'' ini sempat menggebrak gelegar rock tanah air
Bagi sebagian orang mungkin sudah tidak asing lagi dengan grup band yang
satu ini. Godbless! Ya! Grup band yang satu ini merupakan grup band
rock legendaris yang namanya masih terdengar hingga saat ini. Sempat
beberapa kali bongkar pasang personil, akhirnya Godbless sekarang
beranggotakan 5 orang dengan formasi :
- Achmad Albar : lead vokal
- Ian Antono : backing vokal, lead guitar
- Donny Fattah : backing vokal, bass
- Teddy sujana : drum
- Jockie Surjoprajogo : keyboard
Dan dalam posting kali ini saya akan membahas tentang album Godbless yang bertemakan Semut Hitam.
Semut hitam adala album ke-3 yang dirilis oleh grup misik legendaris godbless, Album ini dirilis dengan jarak waktu yang cukup lama dari album terakhir yang berjudul cermin. Comeback mereka ini menorehkan prestasi yang luar biasa. Album ini meledak di pasaran dan menjadi album terlaris Godblesss panjang sejarah. Sukses album ini antara lain berkat lagu andalan album ini berjudul Kehidupan yang langsung berhasil menggebrak setelah dirilis. Sukses single ini dilanjutkan oleh hits berikutnya dari album ini yaitu Rumah Kita. Album ini berhasil mengangkat kembali nama Godblass ke puncak popularitas, sekaligus menjadi motivator bagi banyak kelompok rock yang kemudian muncul pasca sukses God Bless saat itu.
Berikut ini adalah lagu-lagu dalam album Semut Hitam:
Side A
1. "Kehidupan"
2. "Rumah Kita"
3. "Semut Hitam"
4. "Damai Yang Hilang"
5. "Orang Dalam Kaca"
Side B
1. "Ogut Suping"
2. "Suara Kita"
3. "Badut-Badut Jakarta"
4. "Trauma"
5. "Bla... Bla... Bla..."
- Achmad Albar : lead vokal
- Ian Antono : backing vokal, lead guitar
- Donny Fattah : backing vokal, bass
- Teddy sujana : drum
- Jockie Surjoprajogo : keyboard
Dan dalam posting kali ini saya akan membahas tentang album Godbless yang bertemakan Semut Hitam.
Semut hitam adala album ke-3 yang dirilis oleh grup misik legendaris godbless, Album ini dirilis dengan jarak waktu yang cukup lama dari album terakhir yang berjudul cermin. Comeback mereka ini menorehkan prestasi yang luar biasa. Album ini meledak di pasaran dan menjadi album terlaris Godblesss panjang sejarah. Sukses album ini antara lain berkat lagu andalan album ini berjudul Kehidupan yang langsung berhasil menggebrak setelah dirilis. Sukses single ini dilanjutkan oleh hits berikutnya dari album ini yaitu Rumah Kita. Album ini berhasil mengangkat kembali nama Godblass ke puncak popularitas, sekaligus menjadi motivator bagi banyak kelompok rock yang kemudian muncul pasca sukses God Bless saat itu.
Berikut ini adalah lagu-lagu dalam album Semut Hitam:
Side A
1. "Kehidupan"
2. "Rumah Kita"
3. "Semut Hitam"
4. "Damai Yang Hilang"
5. "Orang Dalam Kaca"
Side B
1. "Ogut Suping"
2. "Suara Kita"
3. "Badut-Badut Jakarta"
4. "Trauma"
5. "Bla... Bla... Bla..."
Kamis, 04 Oktober 2012
Langganan:
Postingan (Atom)











